WAMENA, suarabaliem.com – Bahan pangan tepung terigu yang telah menjadi makanan pokok manusia selama ribuan tahun belakangan ini kerap dituding sebagai pemicu utama berbagai gangguan kesehatan modern, seperti penyakit diabetes hingga obesitas. Namun, pakar kesehatan Dr. Hans menegaskan bahwa tepung sebenarnya bukan musuh utama yang harus sepenuhnya dimusuhi.
Menurut Dr. Hans, permasalahan dasarnya bersumber dari bagaimana tepung mengalami evolusi di era modern serta cara tubuh manusia meresponsnya saat ini.
3 Penyebab Tepung Modern Berisiko bagi Kesehatan
Dr. Hans menyoroti tiga faktor utama yang mengubah tepung dari bahan makanan pokok yang sehat menjadi berpotensi membahayakan tubuh:
1. Perubahan Karakteristik Gandum
Tepung di masa kini umumnya mengandalkan gandum hibrida jenis dwarf wheat (gandum kerdil) yang memiliki susunan gluten jauh lebih kompleks. Proses penggilingannya pun memanfaatkan mesin baja berkecepatan tinggi yang menghasilkan tekstur amat halus, namun membuang bagian dedak dan inti gandum (bran and germ). Akibatnya, kandungan serat dan nutrisi alaminya hilang. Tak hanya itu, produsen juga sering menambahkan zat aditif sintetis seperti pengawet dan pemutih.
2. Dominasi Produk Ultra-Proses
Masyarakat saat ini jarang mengonsumsi tepung dalam wujud murninya. Tepung lebih sering diolah menjadi produk ultra-proses (seperti roti manis, pastry, dan kue) yang mencampurkan tepung olahan dengan minyak rafinasi, gula tambahan, serta penguat rasa. Kombinasi bahan ini sangat merusak sistem metabolisme, sangat berbanding terbalik dengan metode pembuatan roti tradisional seperti sourdough yang memanfaatkan proses fermentasi alami.
3. Gaya Hidup Masyarakat Modern
Perpaduan antara olahan tepung modern dan pola hidup masa kini menjadi pemicu munculnya masalah kesehatan. Berbeda dari generasi terdahulu yang aktif bergerak, masyarakat modern cenderung menjalani gaya hidup kurang gerak (sedentary), mengalami stres kronis, dan kurang tidur. Kondisi ini, jika dibarengi dengan konsumsi makanan ultra-proses secara terus-menerus, bakal memicu lonjakan gula darah, resistensi insulin, hingga penumpukan lemak viseral pada perut.
7 Strategi Cerdas Mengonsumsi Tepung agar Tetap Sehat
Meskipun hidup di era modern, bukan berarti Anda harus memangkas konsumsi tepung secara total. Terdapat beberapa strategi praktis untuk menjaga metabolisme tubuh tetap prima:
1. Cermat Membaca Label Kemasan: Utamakan produk yang menggunakan biji-bijian utuh (whole grains) dan memiliki daftar komposisi yang singkat. Hindari produk dengan banyak kandungan bahan kimia bermerek rumit.
2. Utamakan Roti Fermentasi: Pilih roti sourdough tradisional dibandingkan roti berbahan ragi instan komersial, sebab proses fermentasinya lebih ramah bagi sistem pencernaan dan kadar gula darah.
3. Terapkan Teknik Retrogradasi: Dinginkan terlebih dahulu makanan bertepung (seperti kentang atau pasta) yang telah dimasak sebelum menyantapnya. Langkah ini meningkatkan kadar pati resisten (resistant starch) yang baik untuk pencernaan tanpa memicu lonjakan gula darah secara mendadak.
4. Hindari Menyantap Karbohidrat Tanpa Pendamping: Jangan pernah mengonsumsi karbohidrat secara tunggal. Selalu padukan santapan bertepung dengan serat (sayuran), protein, serta lemak sehat guna meredam lonjakan insulin.
5. Masak Makanan Sendiri: Mengolah sendiri umbi-umbian atau biji-bijian di rumah merupakan langkah terbaik untuk memastikan kualitas bahan yang masuk ke dalam tubuh.
6. Batasi Kombinasi Karbohidrat Lain: Jika menu makanan Anda sudah memuat olahan tepung (seperti roti atau mi), hindari menambah jenis karbohidrat lain seperti kentang, nasi, atau buah yang terlalu manis dalam satu porsi.
7. Batasi Frekuensi Konsumsi: Jadikan santapan berbahan tepung modern sebagai makanan sesekali (treat) saja, bukan sebagai makanan pokok harian, utamanya saat makan di luar rumah.
Dr. Hans menyimpulkan bahwa tepung bukanlah bahan yang harus ditakuti secara mutlak. Baik atau buruknya dampak tepung amat bergantung pada kualitas bahan baku, cara pengolahan, kombinasi sajian, serta kondisi fisik masing-masing individu, termasuk ada atau tidaknya riwayat perlemakan hati dan diabetes. SB/OB